Tampilkan postingan dengan label ASTRONOMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASTRONOMI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 April 2015

Sirius atau Syi'raa

Ketika pengertian-pengertian tertentu yang disebutkan dalam Al Qur’an dikaji berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah abad ke-21, kita akan mendapati diri kita tercerahkan dengan lebih banyak keajaiban Al Qur’an. Salah satunya adalah bintang Sirius (Syi’ra), yang disebut dalam surat An Najm ayat ke-49:
… dan bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi’ra (QS. An Najm, 53: 49)
Kenyataan bahwa kata Arab “syi’raa,” yang merupakan padan kata bintang Sirius, muncul hanya di Surat An Najm (yang hanya berarti “bintang”) ayat ke-49 secara khusus sangatlah menarik. Sebab, dengan mempertimbangkan ketidakteraturan dalam pergerakan bintang Sirius, yakni bintang paling terang di langit malam hari, sebagai titik awal, para ilmuwan menemukan bahwa ini adalah sebuah bintang ganda. Sirius sesungguhnya adalah sepasang dua bintang, yang dikenal sebagai Sirius A dan Sirius B. Yang lebih besar adalah Sirius A, yang juga lebih dekat ke Bumi dan bintang paling terang yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Tapi Sirus B tidak dapat dilihat tanpa teropong.
Bintang ganda Sirius beredar dengan lintasan berbentuk bulat telur mengelilingi satu sama lain. Masa edar Sirius A dan B mengelilingi titik pusat gravitasi mereka yang sama adalah 49,9 tahun. Angka ilmiah ini kini diterima secara bulat oleh jurusan astronomi di universitas Harvard, Ottawa dan Leicester. Keterangan ini dilaporkan dalam berbagai sumber sebagai berikut:
Sirius, bintang yang paling terang, sebenarnya adalah bintang kembar… Peredarannya berlangsung selama 49,9 tahun.
Sebagaimana diketahui, bintang Sirius-A dan Sirius-B beredar mengelilingi satu sama lain melintasi sebuah busur ganda setiap 49,9 tahun.
Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah garis edar ganda berbentuk busur dari dua bintang tersebut yang mengitari satu sama lain.
Namun, kenyataan ilmiah ini, yang ketelitiannya hanya dapat diketahui di akhir abad ke-20, secara menakjubkan telah diisyaratkan dalam Al Qur’an 1.400 tahun lalu. Ketika ayat ke-49 dan ke-9 dari surat An Najm dibaca secara bersama, keajaiban ini menjadi nyata:
dan bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi’ra (QS. An Najm, 53: 49)
maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). (QS. An Najm, 53: 9)
Penjelasan dalam Surat An Najm ayat ke-9 tersebut mungkin pula menggambarkan bagaimana kedua bintang ini saling mendekat dalam peredaran mereka. (Wallaahu a’lam). Fakta ilmiah ini, yang tak seorang pun dapat memahami di masa pewahyuan Al Qur’an, sekali lagi membuktikan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah Yang Mahakuasa.

Senin, 06 April 2015

Penelitian Titan. Bulan terbesar planet Saturnus

TITAN Yakni bulan terbesar di Planet Saturnus.  Banyak pendapat menyebut kalau Titan memiliki jutaan kubik air, sehingga jadi harapan menjadi “Bumi ke-2”. Penelitian pun dengan gencar menyelidiki Titan lebih intensif lagi.
Rupanya angan-angan menjadikan Titan tempat tinggal baru bagi umat manusia harus “menelan kopi pahit”. Pihak NASA menyimpulkan, memang benar Titan seperti bumi yaitu memiliki cairan di atmosfer yang bisa menimbulkan hujan ke atas permukaan planetnya.
Tapi di Titan bukan hujan air, melainkan hujan metana. Hujan tersebut pun hanya datang sekali dalam 1000 tahun. Temuan ini disajikan oleh Dr. Ralph Lorenz saat konferensi Bulan dan Planet di the Lunar and Planetary Science Conference (LPSC), Texas.
“Titan sangat menarik, punya analogi yang sama tetapi berbeda dengan bumi. Angin dan hujan memahat permukaan, menghasilkan saluran sungai, danau, bukit pasir dan garis pantai,” jelas Dr. Ralph.
Tapi di Titan, hidrokarbon cair mengambil tempat air. Dengan hujan metana, maka suhunya mencapai 179 derajat Celcius. Perhitungan ini didasarkan pada temuan badai hujan yang terjadi pada tahun 2004 dan 2010 di Titan – pada dua tempat yang berbeda.

"Anda membutuhkan waktu berabad-abad untuk menunggu datangnya hujan di Titan. Saat itu terjadi, hujan (metana) yang turun curahnya bisa puluhan sentimeter bahkan meter tingginya,” urai Dr. Ralph lebih lanjut.
Artinya, kalau kamu termasuk pemerhati Alien atau ingin mencari “bumi lain” di sistem tata surya maka harus bersabar dan terus mencari. Sementara, kita nikmati dan jagalah bumi. Karena hanya bumi saja yang dibuat Tuhan untuk umat manusia

Astrophobia

Yo, kikyo hadir lagi :D kali ini bahasan kita berlabel ganda yaitu Astronomi dan Psikologi :D
dan kini kita bahas tentangAstrophobia, penasaran? :v yok kita bahas

Astrophobia, atau takut bintang dan ruang angkasa, merupakan hal yang berbeda. Bagi banyak orang, astrophobia sangat terhubung ke takut alien. Film seperti Independence day, Invasi the Body Snatchers dan, tentu saja, Alien, bermain dalam ketakutan bahwa kehidupan cerdas mungkin ada di luar planet kita sendiri dan bahwa bentuk-bentuk kehidupan mungkin memusuhi kita. Banyak film ini melibatkan skenario hari kiamat, di mana kehidupan seperti yang kita tahu itu terancam oleh serangan luar bumi.
Astraphobia juga dapat terhubung ke kekhawatiran gelap, sendirian atau berada jauh dari rumah. Film seperti Ruang Camp mengatasi kekosongan dingin luar angkasa. Astraphobia juga bisa berasal dari rasa takut eksplorasi ruang angkasa, dipicu oleh bencana seperti ledakan dari pesawat ulang-alik Challenger dan Columbia. Film Apollo 13 ditujukan bahaya yang sangat nyata yang terkait dengan program luar angkasa.
 Gejala Astrophobia
 Gejala Astrophobia yang mirip dengan fobia spesifik lainnya. Tergantung pada sifat yang tepat dari fobia Anda, Anda mungkin menemukan diri Anda tidak dapat menonton film tentang alien. Anda mungkin menjadi terobsesi dengan lokasi seperti Area 51 dan bertanya-tanya tentang teori konspirasi yang mengklaim pemerintah menutup-nutupi interaksi alien. Anda mungkin mempertahankan skeptisisme yang sehat tentang teori-teori, tetapi khawatir tentang apa yang bisa berarti * jika * mereka benar.
 Jika Anda takut dengan ruang itu sendiri, Anda mungkin merasa sulit untuk menonton film atau acara televisi tentang program luar angkasa. Anda mungkin menghindari peluncuran pesawat ulang-alik dan menjadi tidak nyaman ketika politisi dan pakar membahas masa depan perjalanan ruang angkasa.
 
mengobati Astrophobia

Banyak orang mengatakan bahwa penderita astraphobia  tidak memerlukan  pengobatan sama sekali. Jika Anda tidak memiliki rencana untuk melakukan perjalanan ke luar angkasa, Astrophobia mungkin tidak secara signifikan mempengaruhi hidup Anda. Namun, Anda mungkin secara bertahap mengetahui bahwa fobia Anda membawa Anda untuk menghindari lokasi seperti museum ilmu pengetahuan dan acara Halloween, serta sejumlah besar film.

Untungnya, Astrophobia dapat diperlakukan dengan cara yang sama seperti fobia spesifik. Fokus pengobatan akan membantu Anda untuk melupakan keyakinan negatif Anda tentang ruang. Anda akan diajarkan pesan sehat dan mengatasi keterampilan untuk membantu Anda menghindari panik. Terapi kognitif-perilaku dan obat pengobatan umum untuk Astrophobia.
sayang banget kan bagi penderita astrophobia dia gak bisa ngerasain nikmat atas keindahan alam tuhan :( semoga cepet sembuh deh ya buat penderita astrophobia.

Kamis, 02 April 2015

Gerhana Bulan Total 4 april 2015

Beberapa bulan lalu tepatnya 8 Oktober 2014 masyarakat di Indonesia berkesempatan menyaksikan gerhana bulan tepat ketika Bulan baru terbit yakni saat Matahari terbenam. Tentu bagi yang ikut menyaksikan fenomena tersebut tidak akan lupa betapa surganya berada di antara dua keindahan sekaligus: gerhana bulan di langit timur dan senja di langit barat. Namun bagi yang melewatkan fenomena tersebut, maka akan ada kesempatan kedua yang hampir sama yaitu gerhana bulan total saat senja. Kesempatan kedua itu terjadi pada Sabtu, 4 April 2015.

Gerhana bulan total 4 April 2015
Foto gerhana bulan total.

Penyebab Gerhana Bulan Total 4 April 2015

Gerhana bulan terjadi ketika Matahari-Bumi-Bulan berada pada kedudukan hampir berpelurus dalam bidang geometri. Peristiwa ini menyebabkan cahaya matahari yang seharusnya menerangi Bulan menjadi terhalang oleh Bumi. Singkatnya, gerhana bulan terjadi ketika Bulan memasuki bayangan bumi. Bayangan bumi sendiri dibedakan menjadi dua yaitu umbra dan penumbra. Umbra adalah bayangan inti yang gelap sedangkan penumbra adalah bayangan di sekitar umbra di mana di daerah ini cahaya matahari dapat menyinari secara langsung meski tidak sempurna.

Ketika Bulan memasuki penumbra bumi, maka akan terjadi gerhana bulan penumbra yang tidak dapat terbedakan dengan mata telanjang. Gerhana bulan sebagian terjadi ketika Bulan berada sebagian di penumbra dan sebagian lagi di umbra sehingga pada bagian bulan yang memasuki umbra akan terlihat gelap kemerahan. Sedangkan jika Bulan masuk seluruhnya ke dalam umbra maka akan terjadi gerhana bulan total dimana seluruh piringan bulan akan terlihat gelap kemerahan.

Konfigurasi geometri Matahari, Bumi dan Bulan saat terjadi gerhana bulan. Kredit: NASA.
Konfigurasi geometri Matahari, Bumi dan Bulan saat terjadi gerhana bulan. Kredit: NASA.

Pada gerhana bulan total 4 April 2015 pun begitu. Bulan akan masuk seluruhnya ke dalam umbra bumi sehingga seluruh wajah bulan akan terlihat gelap kemerahan. Yang menarik, pada gerhana bulan total 4 April 2015 seluruh piringan bulan hanya akan melintasi pinggiran umbra bumi bagian utara dan tak lama setelah itu keluar lagi. Lama waktu Bulan di dalam umbra hanya 4 menit 43 detik. Sedangkan total waktu kontak umbra pada gerhana bulan kali ini mencapai 3 jam 29 menit.

Penyebab Gerhana Bulan Total 4 April 2015 Berwarna Merah

Secara singkat memang gerhana bulan total disebut terjadi karena cahaya matahari kearah Bulan terhalagi Bumi. Namun ini bukan berarti tidak ada sama sekali cahaya matahari yang bisa mencapai Bulan. Sebagaiamana yang diketahui Bumi dilingkupi oleh atmosfer yang terdiri dari berbagai unsur dan senyawa dalam bentuk gas. Ketika cahaya matahari melalui atmosfer bumi inilah terjadi proses fisika dimana cahaya matahari akan terbaur atau ter-refraksi. Sama halnya jika cahaya matahari dilewatkan ke prisma kaca.

Ilustrasi pembiasan sinar matahari pada atmosfer bumi. Kredit: KalAstro.
Ilustrasi pembiasan sinar matahari pada atmosfer bumi. Kredit: KalAstro.

Proses pembauran tersebut menyebabkan cahaya matahari terpecah berdasarkan panjang gelombangnya. Gelombang cahaya terpendek seperti nila, ungu dan biru akan terhambur di dalam atmosfer bumi. Mata manusia yang lebih peka terhadap warna biru mengakibatkan langit terlihat biru di siang hari. Lain halnya dengan gelombang cahaya terpanjang seperti merah, jingga dan kuning akan terpisah dan diteruskan sepanjang umbra bumi. Inilah alasan mengapa Bulan akan terlihat berwarna kemerahan ketika terjadi gerhana bulan total.

Keistimewaan Gerhana Bulan 4 April 2015

  • Gerhana Bulan Tersingkat di Abad Ini
Dengan durasi totalitasnya yang begitu singkat hanya 4 menit 43 detik, gerhana bulan 4 April 2015 pun dinobatkan menjadi gerhana bulan total tersingkat abad ini. Bahkan karena saking singkatnya, gerhana bulan kali ini sempat diperdebatkan karena ada sebagian astronom menyatakan gerhana bulan kali ini hanya sebagaian dan ada pula yang menyatakan gerhana bulan kali ini adalah total. Meski demikian, hasil pengkajian yang lebih teliti membenarkan bahwa gerhana bulan yang akan terjadi adalah gerhana bulan total dengan durasi tersingkat di abad 21 ini.

  • Gerhana Bulan Total ke-3 dalam Seri Tetrad
Seri tetrad adalah suatu rangkaian 4 gerhana bulan total yang secara berturut-turut terjadi tanpa diselini oleh gerhana bulan sebagian ataupun gerhana bulan penumbral. Gerhana bulan total 4 April 2015 termasuk ke dalam suatu seri tetrad dimana gerhana bulan total kali ini menjadi yang ke-3 dari total 4 gerhana bulan total. Dua gerhana bulan total yang lebih dulu terjadi pada tahun 2014 yakni yang pertama pada 15 April 2014 dan yang kedua pada 8 Oktober 2014. Gerhana bulan total yang ke-4 sekaligus menjadi yang terakhir dari seri tetrad ini akan terjadi pada 28 September 2015.

Suatu seri tetrad cukup jarang terjadi. Rentan waktu pengulangannya berkisar dari belasan hingga ratusan tahun. Seri tetrad berikutnya akan terjadi antara tahun 2032 hingga 2033. Namun harus dimengerti, jeda antara seri tetrad tidak berarti tidak aka nada gerhana bulan total yang terjadi selama itu. Gerhana bulan total tetap bisa terjadi tapi tidak dalam rangkaian 4 gerhana bulan total berturut-turut.

  • Satu-satunya Gerhana Bulan Total yang Terlihat di Indonesia hingga 3 Tahun ke Depan
Meski di tahun 2015 ini terdapat 2 gerhana bulan total, namun sayangnya yang bisa disaksikan di Indonesia hanyalah gerhana bulan total 4 April 2015. Gerhana bulan total 28 September 2015 terjadi pada siang hari di Indonesia sehingga tidak memungkinkan mengamatinya karena Bulan berada di bawah horizon. Sedangkan untuk tahun 2016 dan 2017 hanya akan di isi oleh 3 gerhana bulan penumbral dan 1 gerhana bulan sebagian. Setelah 4 April 2015, gerhana bulan total baru bisa teramati lagi dari Indonesia pada 31 Januari 2018 atau dalam 3 tahun kedepan.

Tahun 2018 sendiri akan menjadi tahun keemasan untuk pengamatan gerhana bulan total di Indonesia. Pasalnya dari 2 gerhana bulan total di tahun 2018, keduanya dapat disaksikan di Indonesia. Durasi totalitas dari masing-masing gerhana pun sangat panjang, 1 jam 16 menit untuk gerhana bulan pertama 31 Januari 2018 dan 1 jam 42 menit untuk gerhana bulan kedua pada 27 Juli 2018.

Namun sebelum menjalani “puasa” gerhana bulan total hingga tahun 2018, mari “sahur” dengan gerhana bulan 4 April 2015 terlebih dahulu.

Tahapan Terjadinya Gerhana Bulan Total 4 April 2015

Tahapan terjadinya gerhana bulan total 4 April 2015. Kredit: NASA.
Tahapan terjadinya gerhana bulan total 4 April 2015. Kredit: NASA.

  • 16:01 WIB / 17:01 WITA / 18:01 WIT - Awal Gerhana Bulan Penumbra
Pada waktu ini piringan bulan mulai memasuki penumbra bumi. Pada tahap ini mulai terjadi gerhana bulan penumbral. Meski demikian Bulan belum akan terlihat meredup secara kasat mata. Peredupan pada piringan bulan hanya dapat diamati dengan teleskop dan peralatan optik sensitivitas tinggi.

  • 17:15 WIB / 18:15 WITA / 19:15 WIT - Awal Gerhana Bulan Sebagian
Pada waktu ini sebagian piringan bulan mulai memasuki umbra bumi dan sisanya masih berada di dalam penumbra bumi. Pada tahap mulai terjadi gerhana bulan sebagian yang ditandai dengan mulai meredupnya sebagian piringan bulan dan dapat terlihat secara kasat mata. Piringan bulan yang lebih dulu meredup adalah pada bagian tenggara dan terus beranggsur-angsur memenuhi seluruh piringan bulan. Bulan akan mengalami kontak umbra hingga 3 jam 29 menit kedepan.

  • 18:57 WIB / 19:57 WITA / 20:57 WIT - Awal Gerhana Bulan Total
Pada waktu ini seluruh piringan bulan mulai memasuki umbra bumi. Pada tahap ini mulai terjadi gerhana bulan total dimana seluruh piringan bulan akan terlihat redup kemerahan dan dapat terlihat jelas secara kasat mata. Seluruh piringan bulan akan berada dalam umbra bumi hingga 4 menit 43 detik kedepan.

  • 19:02 WIB / 20:02 WITA / 21:02 WIT - Akhir Gerhana Bulan Total
Pada waktu ini sebagian piringan bulan mulai meninggalkan umbra bumi dan mulai memasuki penumbra bumi. Pada tahap ini gerhana bulan total telah berakhir dan berganti gerhana bulan sebagian. Piringan bulan yang lebih dulu kembali terang adalah pada bagian timur laut dan berangsur-angsur menjalar ke seluruh piringan bulan.

  • 20:44 WIB / 21:44 WITA / 22:44 WIT - Akhir Gerhana Bulan Sebagian
Pada waktu ini seluruh piringan bulan telah meninggalkan umbra bumi dan kembali memasuki penumbra bumi. Pada tahap ini gerhana bulan sebagian telah berakhir dan berganti gerhana bulan penumbral. Seluruh piringan bulan kembali terlihat terang secara kasat mata. Peredupan bulan hanya dapat diamati dengan teleskop dan peralatan optik sensivitas tinggi.

  • 21:58 WIB / 22:58 WITA / 23:58 WIT - Akhir Gerhana Bulan Penumbral
Pada waktu ini seluruh piringan bulan telah meninggalkan penumbral bumi. Seluruh tahapan gerhana selesai. Bulan kembali terang benderang sebagaimana bulan purnama pada umumnya.

Visibilitas Gerhana Bulan Total di Indonesia

Visibilitas gerhana bulan total 4 April 2015 di Indonesia. Kredit: BMKG.
Visibilitas gerhana bulan total 4 April 2015 di Indonesia. Kredit: BMKG.

Indonesia akan mendapat porsi yang cukup baik dalam menyaksikan gerhana bulan total kali ini. Setidaknya, seluruh Indonesia akan bisa menyaksikan sejak gerhana bulan sebelum terjadi gerhana bulan total yang menjadi puncaknya. Di Indonesia sendiri dapat dibagi menjadi 3 zona visibilitas gerhana bulan total kali ini sebagaimana yang terlihat pada peta di atas.

Di zona timur yakni Pulau Irian Jaya bagian timur Bulan akan terbit sebelum terjadi satupun tahapan gerhana. Dengan begitu masyarakat di sini akan bisa menyaksikan seluruh tahapan gerhana yaitu sejak awal gerhana penumbral, awal gerhana sebagian, awal dan akhir gerhana total, akhir gerhana sebagian hingga akhir gerhana penumbral.

Di zona tengah yakni Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, Nusa Tenggara hingga Kalimantan Timur bagian timur Bulan akan terbit ketika awal gerhana penumbral berlangsung. Dengan begitu masyarakat di sini akan bisa menyaksikan awal gerhana penumbral, awal gerhana sebagian, awal dan akhir gerhana total, akhir gerhana sebagian hingga akhir gerhana penumbral.

Di zona barat yakni Pulau Bali, Pulau Jawa, Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan selain Kalimantan Timur bagian timur Bulan akan terbit ketika awal gerhana sebagian berlangsung. Dengan begitu masyarakat di sini akan bisa menyaksikan awal gerhana sebagian, awal dan akhir gerhana total, akhir gerhana sebagian hingga akhir gerhana penumbral.

Cara Mengamati Gerhana Bulan Total 4 April 2015

Sebenarnya tidak ada syarat khusus untuk mengamati suatu gerhana bulan total. Fenomena ini dapat di saksikan baik dengan mata telanjang, binokuler ataupun teleskop. Penggunaan kamera juga akan sangat baik untuk mengabadikan fenomena yang jarang terjadi ini. Selfie dengan latar gerhana bulan pun tidak masalah.

Hal yang perlu di perhatikan sebelum pengamatan lebih pada penentuan lokasi pengamatan. Karena gerhana bulan terjadi saat Bulan terbit, maka harus di cari lokasi dengan medan pandang ke arah timur yang lapang. Ini penting karena letak Bulan masih cukup rendah di timur ketika gerhana bulan berlangsung.

Agendakan pula waktu pengamatan yang sebaiknya menjelang Bulan terbit atau sama artinya dengan menjelang matahari terbenam. Ketika Matahari terbenam di barat, maka Bulan pun akan menyambut terbit di timur. Kesempatan berada di antara indahnya senja di barat dan gerhana bulan di timur tentu akan jadi momen tak terlupakan.

Jumat, 27 Maret 2015

Matter’s Dominance over Antimatter

 Hei, I'm kikyo :'v
and this my 2nd post in here ^_^

The stars, the planets and you and I could just as easily be made of antimatter as matter, but we are not. Something happened early in the universe’s history to give matter the upper hand, leaving a world of things built from atoms and little trace of the antimatter that was once as plentiful but is rare today. A new theory published February 11 in Physical Review Letters suggests the recently discovered Higgs boson particle may be responsible—more particularly, the Higgs field that is associated with the particle.

The Higgs field is thought to pervade all of space and imbue particles that pass through it with mass, akin to the way liquid dye gives Easter eggs color when they are dunked in. If the Higgs field started off with a very high value in the early universe and decreased to its current lower value over time, it might have briefly differentiated the masses of particles from their antiparticles along the way—an anomaly, because antimatter today is characterized by having the same mass but opposite charge as its matter counterpart. This difference in mass, in turn, could have made matter particles more likely to form than antimatter in the cosmos’ early days, producing the excess of matter we see today. “It is a nice idea that deserves further study,” says physicist Kari Enqvist of the University of Helsinki, who was not involved in the new study but who has also researched the possibility that the Higgs field lowered over time. “There is a very high probability for the Higgs field to have a high initial value after inflation.”
 
The inflation of the universe
Inflation is a theorized early epoch of the universe in which spacetime rapidly ballooned. “Inflation has a very peculiar property; it allows fields to jump around,” says study leader Alexander Kusenko of the University of California, Los Angeles. During inflation, which radically altered the universe in a span much less than a second, the Higgs field might have hopped from one value to another due to quantum fluctuations and could have gotten stuck at a very high value when inflation ended. From there it would have settled down into its lower “equilibrium” value, but while it was changing its constantly varying value could have given matter particles different masses than their antimatter counterparts. Because lighter particles require less energy to form they arise more often. Thus, if matter was lighter, it could have quickly become more plentiful.

The reason the Higgs field would have had such an easy time of jumping around during inflation is that the measured mass of the Higgs boson, the particle associated with the field, is relatively low. The boson appeared in 2012 inside the Large Hadron Collider (LHC) in Switzerland, revealing its mass to be about 126 GeV (giga-electron volts), or roughly 118 times the mass of the proton.

That is somewhat lighter than it could have been, according to various theories. Think of the Higgs field as a valley between two cliffs. The value of the field is akin to the elevation of the valley, and the mass of the boson determines the slope of the cliff walls. “If you have a very curved valley then you probably have very steep sides,” Kusenko says. “That’s what we discovered. This value tells us that the walls are not very steep—that means the Higgs field could jump around and go very far” to other valleys at higher elevations. Enqvist agrees that the Higgs could very well have started off much higher than it is today. Whether or not this caused the matter to split from antimatter is “somewhat more speculative,” he says.
 
A new particle
Such splitting would depend on the presence of a theorized particle that has gone undetected so far: a so-called heavy Majorana neutrino. Neutrinos are fundamental particles that come in three flavors (electron, muon and tau). A fourth neutrino might also exist, however, that is expected to be much heavier than the others and thus more difficult to detect (because the heavier a particle is, the more energy a collider must produce to create it). This particle would have the strange virtue of being its own antimatter partner. Instead of a matter and antimatter version of the particle, the matter and antimatter Majorana neutrinos would be one and the same.

This two-faced quality would have made neutrinos into a bridge that allowed matter particles to cross over into antimatter particles and vice versa in the early universe. Quantum laws allow particles to transform into other particles for brief moments of time. Normally they are forbidden from converting between matter and antimatter. But if an antimatter particle, say, an antielectron neutrino turned into a Majorana neutrino, it would cease to know whether it was matter or antimatter and could then just as easily convert to a regular electron neutrino as turn back into its original antielectron neutrino self. And if the neutrino happened to be lighter than the antineutrino back then, because of the varying Higgs field, then the neutrino would have been a more likely outcome potentially giving matter a leg up on antimatter.

“If true, this would solve a big mystery in particle physics,” says physicist Don Lincoln of the Fermi National Accelerator Laboratory in Illinois, who was not involved in the study. Yet the Majorana neutrino “is entirely speculative and has eluded discovery, even though the LHC experiments have a vigorous research program looking for it. Researchers will certainly keep this idea in mind as they dig through the new data the LHC will begin generating in the early summer this year.”

Kusenko and his colleagues also have another hope for finding additional support for their theory. The Higgs field process they envision could have created magnetic fields with particular properties that would still inhabit the universe today—and if so, they might be detectable. If found, the existence of such fields would provide evidence that the Higgs field really did decrease in value long ago. The scientists are trying to calculate just what the magnetic field properties would be and whether experiments have a plausible hope of seeing them, but the option raises the tantalizing hope that their theory could have testable consequences—and maybe a chance to solve the antimatter mystery after all.

Venus Express Climbs to New Orbit

Hello I'm kikyo, ^_^ 
And this my first post ^_^


ESA's Venus Express spacecraft has climbed to a new orbit following its daring aerobraking experiment, and will now resume observations of this fascinating planet for at least a few more months. The orbit-raising followed a month of aerobraking that saw the spacecraft surf in and out of the atmosphere at altitudes typically between 131 km and 135 km for a couple of minutes on each of its closest approaches to the planet.
Before, normal operations involved an elliptical orbit every 24 hours that took Venus Express from 66 000 km over the south pole down to around 250 km at the north pole, just above the top of the atmosphere.
But, after eight years and with propellant running low, the Venus Express team began a daring aerobraking campaign, dipping the craft progressively lower into the atmosphere on its closest approaches.
The experiment directly explored previously uncharted regions of the atmosphere, while also providing information on how a spacecraft responds when encountering the tenuous upper reaches of an atmosphere at high speed.
Aerobraking can be used to reduce the speed of a spacecraft approaching a planet or moon with an atmosphere, allowing it to be captured into orbit, and to move from an elliptical orbit to a more circular one. Less fuel has to be carried, yielding benefits all round. The technique will be used on future missions and the Venus Express experiments will help guide their design.
"We have collected valuable data on the Venusian atmosphere in a region difficult to characterise by other means," says Hakan Svedhem, ESA's Venus Express project scientist.
"The results show that the atmosphere seems to be more variable than previously thought for this altitude range, but further analysis will be needed in order to explain these variations properly."
Between altitudes of 165 km and 130 km, the atmospheric density increases by a factor of roughly a thousand, meaning that the forces and stress encountered by Venus Express were much higher than during normal operations.
It also experienced extreme heating cycles, with temperatures rising by over 100oC during several 100 second-long passages through the atmosphere.
In addition, the atmospheric drag at these lower altitudes was so great that the spacecraft's orbital period was reduced by more than an hour.
"The spacecraft has proven to be very robust and has apparently experienced no substantial degradation in any area, but a detailed evaluation is still to take place," says Joerg Fischer, Venus Express operations engineer.
At the end of the campaign, 15 thruster burns raised the craft's altitude, preventing it from dropping into the atmosphere. The last was executed on Thursday evening, boosting Venus Express to a new altitude of 460 km at its closest and 63 000 km at its furthest. This new orbit takes 22 hours 24 minutes to complete.
"During the 15 manoeuvres, each thruster fired more than 8000 pulses and burned a total of about 5.2 kg of propellant to raise the spacecraft to this new altitude," adds Joerg.
This orbit will slowly decay again under gravity, but with only a few kilograms of fuel at most now remaining further altitude-raising manoeuvres may not be possible. If no further corrections are made, Venus Express will probably reenter the atmosphere again in December, but this time for good, ending the mission.
In the meantime, having survived not only the aerobraking experiment but also the most recent orbit-raising manoeuvres, all of the science experiments will be reactivated, continuing their detailed study of Venus for at least a few more months.
"We are delighted with the success of the experimental aerobraking campaign, and are looking forward to assessing the details over the coming months," says Patrick Martin, mission manager.
"Meanwhile, we are enjoying the view from our new orbit around Venus, and plan to continue augmenting the scientific return of this exciting mission."

Kamis, 19 Maret 2015

Bukti Teori Big Bang Dalam Al-Qur'an


Al-Qur'an Surat Hud Ayat 7 : "Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari"
Enam hari disini bukan berarti waktu sebenarnya karena pada waktu itu, belum ada bumi yang mengelilingi matahari, yang dimaksudkan enam hari disini adalah enam masa/ tahapan. Teori Big Bang atau ledakan besar ini dikemukan oleh seorang astronomi Amerika yang bernama Edwin Hubble tahun 1929. Teori Big Bang ini sendiri di bagi atas enam masa/ tahapan :
Surat An-Nazi'at ayat 27-33
"Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya {27} Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya {28} dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang {29} Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya {30} Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya {31} Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh {32} (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu {33}"
Dari sejumlah ayat Al-Qur"an yang berkaitan dengan enam masa, Surat An-Nazi"at ayat 27-33 di atas tampaknya dapat menjelaskan tahapan enam masa secara kronologis. Urutan masa tersebut sesuai dengan urutan ayatnya, sehingga kira-kira dapat diuraikan sebagai berikut:
Masa I (ayat 27): penciptaan langit pertama kali
Jika alam semesta dapat bergerak mundur ke masa lampau, maka ia akan terbukti berasal dari satu titik tunggal. Perhitungan menunjukkan bahwa 'titik tunggal' ini yang berisi semua materi alam semesta haruslah memiliki 'volume nol', dan 'kepadatan tak hingga'. Alam semesta telah terbentuk melalui ledakan titik tunggal bervolume nol. Ledakan raksasa yang menandai permulaan alam semesta ini dinamakan 'Big Bang'. Teori Big Bang menunjukkan bahwa semua benda di alam semesta pada awalnya adalah satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah. Big Bang merupakan petunjuk nyata bahwa alam semesta telah 'diciptakan dari ketiadaan', dengan kata lain ia diciptakan oleh Allah SWT. Fakta bahwa alam ini diciptakan, yang baru ditemukan fisika modern pada abad 20, telah dinyatakan dalam Alqur'an 14 abad lampau: "ia Pencipta langit dan bumi" Surat Al-An'aam ayat 101.

Pada Masa I, alam semesta pertama kali terbentuk dari ledakan besar yang disebut "big bang", kira-kira 13.7 milyar tahun lalu. Bukti dari teori ini ialah gelombang mikrokosmik di angkasa dan juga dari meteorit. Awan debu (dukhan) yang terbentuk dari ledakan tersebut terdiri dari hidrogen. Hidrogen adalah unsur pertama yang terbentuk ketika dukhan berkondensasi sambil berputar dan memadat. Ketika temperatur dukhan mencapai 20 juta derajat celcius, terbentuklah helium dari reaksi inti sebagian atom hidrogen. Sebagian hidrogen yang lain berubah menjadi energi berupa pancaran sinar infra-red. Perubahan wujud hidrogen ini mengikuti persamaan E=mc2, besarnya energi yang dipancarkan sebanding dengan massa atom hidrogen yang berubah.
Selanjutnya, angin bintang menyembur dari kedua kutub dukhan, menyebar dan menghilangkan debu yang mengelilinginya. Sehingga, dukhan yang tersisa berupa piringan, yang kemudian membentuk galaksi. Bintang-bintang dan gas terbentuk dan mengisi bagian dalam galaksi, menghasilkan struktur filamen (lembaran) dan void (rongga). Jadi, alam semesta yang kita kenal sekarang bagaikan kapas, terdapat bagian yang kosong dan bagian yang terisi.

Masa II (ayat 2: pengembangan dan penyempurnaan)
Dalam ayat 28 di atas terdapat kata "meninggikan bangunan" dan "menyempurnakan". Kata "meninggikan bangunan" dianalogikan dengan alam semesta yang mengembang, sehingga galaksi-galaksi saling menjauh dan langit terlihat makin tinggi. Ibaratnya sebuah roti kismis yang semakin mengembang, dimana kismis tersebut dianggap sebagai galaksi. Jika roti tersebut mengembang maka kismis tersebut pun akan semakin menjauh.
Mengembangnya alam semesta sebenarnya adalah kelanjutan big bang. Jadi, pada dasarnya big bang bukanlah ledakan dalam ruang, melainkan proses pengembangan alam semesta. Dengan menggunakan perhitungan efek doppler sederhana, dapat diperkirakan berapa lama alam ini telah mengembang, yaitu sekitar 13.7 miliar tahun.
Sedangkan kata "menyempurnakan", menunjukkan bahwa alam ini tidak serta merta terbentuk, melainkan dalam proses yang terus berlangsung. Misalnya kelahiran dan kematian bintang yang terus terjadi. Alam semesta ini dapat terus mengembang, atau kemungkinan lainnya akan mengerut.

Masa III (ayat 29): pembentukan tata surya termasuk Bumi
Surat An-Nazi"ayat 29 menyebutkan bahwa Allah menjadikan malam yang gelap gulita dan siang yang terang benderang. Ayat tersebut dapat ditafsirkan sebagai penciptaan matahari sebagai sumber cahaya dan Bumi yang berotasi, sehingga terjadi siang dan malam. Pembentukan tata surya diperkirakan seperti pembentukan bintang yang relatif kecil, kira-kira sebesar orbit Neptunus. Prosesnya sama seperti pembentukan galaksi seperti di atas, hanya ukurannya lebih kecil.
Seperti halnya matahari, sumber panas dan semua unsur yang ada di Bumi berasal dari reaksi nuklir dalam inti besinya. Lain halnya dengan Bulan. Bulan tidak mempunyai inti besi. Unsur kimianya pun mirip dengan kerak bumi. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, disimpulkan bahwa Bulan adalah bagian Bumi yang terlontar ketika Bumi masih lunak. Lontaran ini terjadi karena Bumi bertumbukan dengan suatu benda angkasa yang berukuran sangat besar (sekitar 1/3 ukuran Bumi). Jadi, unsur-unsur di Bulan berasal dari Bumi, bukan akibat reaksi nuklir pada Bulan itu sendiri.

Masa IV (ayat 30): awal mula daratan di Bumi
Penghamparan yang disebutkan dalam ayat 30, dapat diartikan sebagai pembentukan superkontinen Pangaea di permukaan Bumi.
Masa III hingga Masa IV ini juga bersesuaian dengan Surat Fushshilat ayat 9 yang artinya, "Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya?" (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam".

Masa V (ayat 31): pengiriman air ke Bumi melalui komet
Dari ayat 31 di atas, dapat diartikan bahwa di Bumi belum terdapat air ketika mula-mula terbentuk. Jadi, ayat ini menunjukan evolusi Bumi dari tidak ada air menjadi ada air.
Jadi, darimana datangnya air? Air diperkirakan berasal dari komet yang menumbuk Bumi ketika atmosfer Bumi masih sangat tipis. Unsur hidrogen yang dibawa komet kemudian bereaksi dengan unsur-unsur di Bumi dan membentuk uap air. Uap air ini kemudian turun sebagai hujan yang pertama. Bukti bahwa air berasal dari komet, adalah rasio Deuterium dan Hidrogen pada air laut, yang sama dengan rasio pada komet. Deuterium adalah unsur Hidrogen yang massanya lebih berat daripada Hidrogen pada umumnya.
Karena semua kehidupan berasal dari air, maka setelah air terbentuk, kehidupan pertama berupa tumbuhan bersel satu pun mulai muncul di dalam air.

Masa VI (ayat 32-33): proses geologis serta lahirnya hewan dan manusia
Dalam ayat 32 di atas, disebutkan "รข?¦gunung-gunung dipancangkan dengan teguh." Artinya, gunung-gunung terbentuk setelah penciptaan daratan, pembentukan air dan munculnya tumbuhan pertama. Gunung-gunung terbentuk dari interaksi antar lempeng ketika superkontinen Pangaea mulai terpecah. Proses detail terbentuknya gunung dapat dilihat pada artikel sebelumnya yang ditulis oleh Dr.Eng. Ir. Teuku Abdullah Sanny, M.Sc tentang fungsi gunung sebagai pasak bumi.
Kemudian, setelah gunung mulai terbentuk, terciptalah hewan dan akhirnya manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat 33 di atas. Jadi, usia manusia relatif masih sangat muda dalam skala waktu geologi.
Jika diurutkan dari Masa III hingga Masa VI, maka empat masa tersebut dapat dikorelasikan dengan empat masa dalam Surat Fushshilat ayat 10 yang berbunyi, "Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya".
Jadi, beratus-ratus tahun sebelum ditemukannya teori big bang, proses pembentukan alam semesta sudah tertera di dalam Al-Quran.

Jumat, 13 Maret 2015

Planet yang Mirip Bumi

Info Astronomy - Sejak lembaga antariksa Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA) mengumumkan delapan planet kembaran Bumi yang dirangkum per Januari 2015, hal ini memicu pertanyaan lain.

Apakah semua planet tersebut layak huni sungguhan atau tidak?

Penelitian akan dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Masalahnya, untuk mengetahui lebih lanjut keadaan planet-planet itu, wajib hukumnya mengunjungi permukaan si planet secara langsung.

Dua planet yang baru ditemukan pada Selasa (6/1) kemarin adalah Kepler-438b dan Kepler-442b. Masing-masing memiliki jarak 470 tahun cahaya dan 1.100 tahun cahaya dari Bumi. [1 tahun cahaya sama dengan 9,4 triliun kilometer]

"Itu jarak yang sangat jauh," ujar salah satu peneliti NASA, Doug Caldwell, dilansir CNN. "Kita perlu sambangi Mars terlebih dahulu."

Selama ini, para peneliti hanya bisa meninjau planet-planet mirip Bumi melalui instrumen teleskop Kepler milik NASA yang diluncurkan ke orbit Bumi sejak 2009 lalu khusus untuk memburu planet baru.

Sejauh ini, Kepler-438b dilaporkan mengandung bebatuan sekitar 70 persen dan menerima 40 persen cahaya lebih banyak dari Bumi. Sedangkan Kepler-442b memiliki kecenderungan permukaan bebatuan sekitar 60 persen.

Kebanyakan di antara planet kembaran Bumi yang telah ditemukan memang dinyatakan mengandung elemen air dan bebatuan pada permukaan planet.

Selain kendala jarak, ketersediaan peralatan astronomis juga menjadi salah satunya.

Teleskop luar angkasa yang bisa digunakan untuk mempelajari eksoplanet harus memiliki diameter 10 atau 12 meter. Sementara ini, satelit Bumi paling besar berdiameter 10 meter.

Mungkin "cuma mimpi" untuk peradaban manusia saat ini. Tapi di peradaban manusia berikutnya, mengunjungi planet lain seperti silaturahmi ke rumah tetangga.

Diberdayakan oleh Blogger.