Ketika pengertian-pengertian tertentu yang disebutkan dalam Al
Qur’an dikaji berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah abad ke-21,
kita akan mendapati diri kita tercerahkan dengan lebih
banyak keajaiban Al Qur’an. Salah satunya adalah bintang
Sirius (Syi’ra), yang disebut dalam surat An Najm ayat ke-49:
… dan bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi’ra (QS. An Najm, 53: 49)
Kenyataan bahwa kata Arab “syi’raa,” yang merupakan padan kata
bintang Sirius, muncul hanya di Surat An Najm (yang hanya
berarti “bintang”) ayat ke-49 secara khusus sangatlah
menarik. Sebab, dengan mempertimbangkan ketidakteraturan
dalam pergerakan bintang Sirius, yakni bintang paling terang
di langit malam hari, sebagai titik awal, para ilmuwan menemukan bahwa
ini adalah sebuah bintang ganda. Sirius sesungguhnya adalah
sepasang dua bintang, yang dikenal sebagai Sirius A dan Sirius
B. Yang lebih besar adalah Sirius A, yang juga lebih dekat
ke Bumi dan bintang paling terang yang dapat dilihat dengan
mata telanjang. Tapi Sirus B tidak dapat dilihat tanpa teropong.
Bintang ganda Sirius beredar dengan lintasan berbentuk bulat telur
mengelilingi satu sama lain. Masa edar Sirius A dan B
mengelilingi titik pusat gravitasi mereka yang sama adalah
49,9 tahun. Angka ilmiah ini kini diterima secara bulat oleh
jurusan astronomi di universitas Harvard, Ottawa dan
Leicester. Keterangan ini dilaporkan dalam berbagai sumber sebagai berikut:
Sirius, bintang yang paling terang, sebenarnya adalah bintang kembar… Peredarannya berlangsung selama 49,9 tahun.
Sebagaimana diketahui, bintang Sirius-A dan Sirius-B beredar
mengelilingi satu sama lain melintasi sebuah busur ganda
setiap 49,9 tahun.
Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah garis edar ganda
berbentuk busur dari dua bintang tersebut yang mengitari satu
sama lain.
Namun, kenyataan ilmiah ini, yang ketelitiannya hanya dapat
diketahui di akhir abad ke-20, secara menakjubkan telah
diisyaratkan dalam Al Qur’an 1.400 tahun lalu. Ketika ayat
ke-49 dan ke-9 dari surat An Najm dibaca secara bersama,
keajaiban ini menjadi nyata:
dan bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi’ra (QS. An Najm, 53: 49)
maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). (QS. An Najm, 53: 9)
Penjelasan dalam Surat An Najm ayat ke-9 tersebut mungkin pula
menggambarkan bagaimana kedua bintang ini saling mendekat dalam
peredaran mereka. (Wallaahu a’lam). Fakta ilmiah ini, yang tak
seorang pun dapat memahami di masa pewahyuan Al Qur’an, sekali
lagi membuktikan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah Yang
Mahakuasa.
Selasa, 07 April 2015
Sirius atau Syi'raa
Diposting oleh Unknown di 06.23Senin, 06 April 2015
Penelitian Titan. Bulan terbesar planet Saturnus
Diposting oleh Unknown di 03.39"Anda membutuhkan waktu berabad-abad untuk menunggu datangnya hujan di Titan. Saat itu terjadi, hujan (metana) yang turun curahnya bisa puluhan sentimeter bahkan meter tingginya,” urai Dr. Ralph lebih lanjut.
Astrophobia
Diposting oleh Unknown di 03.09Yo, kikyo hadir lagi :D kali ini bahasan kita berlabel ganda yaitu Astronomi dan Psikologi :D
dan kini kita bahas tentangAstrophobia, penasaran? :v yok kita bahas
Astraphobia juga dapat terhubung ke kekhawatiran gelap, sendirian atau berada jauh dari rumah. Film seperti Ruang Camp mengatasi kekosongan dingin luar angkasa. Astraphobia juga bisa berasal dari rasa takut eksplorasi ruang angkasa, dipicu oleh bencana seperti ledakan dari pesawat ulang-alik Challenger dan Columbia. Film Apollo 13 ditujukan bahaya yang sangat nyata yang terkait dengan program luar angkasa.
Gejala Astrophobia
Gejala Astrophobia yang mirip dengan fobia spesifik lainnya. Tergantung pada sifat yang tepat dari fobia Anda, Anda mungkin menemukan diri Anda tidak dapat menonton film tentang alien. Anda mungkin menjadi terobsesi dengan lokasi seperti Area 51 dan bertanya-tanya tentang teori konspirasi yang mengklaim pemerintah menutup-nutupi interaksi alien. Anda mungkin mempertahankan skeptisisme yang sehat tentang teori-teori, tetapi khawatir tentang apa yang bisa berarti * jika * mereka benar.
Jika Anda takut dengan ruang itu sendiri, Anda mungkin merasa sulit untuk menonton film atau acara televisi tentang program luar angkasa. Anda mungkin menghindari peluncuran pesawat ulang-alik dan menjadi tidak nyaman ketika politisi dan pakar membahas masa depan perjalanan ruang angkasa.
mengobati Astrophobia
Banyak orang mengatakan bahwa penderita astraphobia tidak memerlukan pengobatan sama sekali. Jika Anda tidak memiliki rencana untuk melakukan perjalanan ke luar angkasa, Astrophobia mungkin tidak secara signifikan mempengaruhi hidup Anda. Namun, Anda mungkin secara bertahap mengetahui bahwa fobia Anda membawa Anda untuk menghindari lokasi seperti museum ilmu pengetahuan dan acara Halloween, serta sejumlah besar film.
Untungnya, Astrophobia dapat diperlakukan dengan cara yang sama seperti fobia spesifik. Fokus pengobatan akan membantu Anda untuk melupakan keyakinan negatif Anda tentang ruang. Anda akan diajarkan pesan sehat dan mengatasi keterampilan untuk membantu Anda menghindari panik. Terapi kognitif-perilaku dan obat pengobatan umum untuk Astrophobia.
sayang banget kan bagi penderita astrophobia dia gak bisa ngerasain nikmat atas keindahan alam tuhan :( semoga cepet sembuh deh ya buat penderita astrophobia.
Kamis, 02 April 2015
Gerhana Bulan Total 4 april 2015
Diposting oleh Unknown di 21.50Beberapa bulan lalu tepatnya 8 Oktober 2014 masyarakat di Indonesia
berkesempatan menyaksikan gerhana bulan tepat ketika Bulan baru terbit
yakni saat Matahari terbenam. Tentu bagi yang ikut menyaksikan fenomena
tersebut tidak akan lupa betapa surganya berada di antara dua keindahan
sekaligus: gerhana bulan di langit timur dan senja di langit barat.
Namun bagi yang melewatkan fenomena tersebut, maka akan ada kesempatan
kedua yang hampir sama yaitu gerhana bulan total saat senja. Kesempatan
kedua itu terjadi pada Sabtu, 4 April 2015.
![]() |
| Foto gerhana bulan total. |
Penyebab Gerhana Bulan Total 4 April 2015
Gerhana bulan terjadi ketika Matahari-Bumi-Bulan berada pada kedudukan hampir berpelurus dalam bidang geometri. Peristiwa ini menyebabkan cahaya matahari yang seharusnya menerangi Bulan menjadi terhalang oleh Bumi. Singkatnya, gerhana bulan terjadi ketika Bulan memasuki bayangan bumi. Bayangan bumi sendiri dibedakan menjadi dua yaitu umbra dan penumbra. Umbra adalah bayangan inti yang gelap sedangkan penumbra adalah bayangan di sekitar umbra di mana di daerah ini cahaya matahari dapat menyinari secara langsung meski tidak sempurna.Ketika Bulan memasuki penumbra bumi, maka akan terjadi gerhana bulan penumbra yang tidak dapat terbedakan dengan mata telanjang. Gerhana bulan sebagian terjadi ketika Bulan berada sebagian di penumbra dan sebagian lagi di umbra sehingga pada bagian bulan yang memasuki umbra akan terlihat gelap kemerahan. Sedangkan jika Bulan masuk seluruhnya ke dalam umbra maka akan terjadi gerhana bulan total dimana seluruh piringan bulan akan terlihat gelap kemerahan.
![]() |
| Konfigurasi geometri Matahari, Bumi dan Bulan saat terjadi gerhana bulan. Kredit: NASA. |
Pada gerhana bulan total 4 April 2015 pun begitu. Bulan akan masuk seluruhnya ke dalam umbra bumi sehingga seluruh wajah bulan akan terlihat gelap kemerahan. Yang menarik, pada gerhana bulan total 4 April 2015 seluruh piringan bulan hanya akan melintasi pinggiran umbra bumi bagian utara dan tak lama setelah itu keluar lagi. Lama waktu Bulan di dalam umbra hanya 4 menit 43 detik. Sedangkan total waktu kontak umbra pada gerhana bulan kali ini mencapai 3 jam 29 menit.
Penyebab Gerhana Bulan Total 4 April 2015 Berwarna Merah
Secara singkat memang gerhana bulan total disebut terjadi karena cahaya matahari kearah Bulan terhalagi Bumi. Namun ini bukan berarti tidak ada sama sekali cahaya matahari yang bisa mencapai Bulan. Sebagaiamana yang diketahui Bumi dilingkupi oleh atmosfer yang terdiri dari berbagai unsur dan senyawa dalam bentuk gas. Ketika cahaya matahari melalui atmosfer bumi inilah terjadi proses fisika dimana cahaya matahari akan terbaur atau ter-refraksi. Sama halnya jika cahaya matahari dilewatkan ke prisma kaca.![]() |
| Ilustrasi pembiasan sinar matahari pada atmosfer bumi. Kredit: KalAstro. |
Proses pembauran tersebut menyebabkan cahaya matahari terpecah berdasarkan panjang gelombangnya. Gelombang cahaya terpendek seperti nila, ungu dan biru akan terhambur di dalam atmosfer bumi. Mata manusia yang lebih peka terhadap warna biru mengakibatkan langit terlihat biru di siang hari. Lain halnya dengan gelombang cahaya terpanjang seperti merah, jingga dan kuning akan terpisah dan diteruskan sepanjang umbra bumi. Inilah alasan mengapa Bulan akan terlihat berwarna kemerahan ketika terjadi gerhana bulan total.
Keistimewaan Gerhana Bulan 4 April 2015
- Gerhana Bulan Tersingkat di Abad Ini
- Gerhana Bulan Total ke-3 dalam Seri Tetrad
Suatu seri tetrad cukup jarang terjadi. Rentan waktu pengulangannya berkisar dari belasan hingga ratusan tahun. Seri tetrad berikutnya akan terjadi antara tahun 2032 hingga 2033. Namun harus dimengerti, jeda antara seri tetrad tidak berarti tidak aka nada gerhana bulan total yang terjadi selama itu. Gerhana bulan total tetap bisa terjadi tapi tidak dalam rangkaian 4 gerhana bulan total berturut-turut.
- Satu-satunya Gerhana Bulan Total yang Terlihat di Indonesia hingga 3 Tahun ke Depan
Tahun 2018 sendiri akan menjadi tahun keemasan untuk pengamatan gerhana bulan total di Indonesia. Pasalnya dari 2 gerhana bulan total di tahun 2018, keduanya dapat disaksikan di Indonesia. Durasi totalitas dari masing-masing gerhana pun sangat panjang, 1 jam 16 menit untuk gerhana bulan pertama 31 Januari 2018 dan 1 jam 42 menit untuk gerhana bulan kedua pada 27 Juli 2018.
Namun sebelum menjalani “puasa” gerhana bulan total hingga tahun 2018, mari “sahur” dengan gerhana bulan 4 April 2015 terlebih dahulu.
Tahapan Terjadinya Gerhana Bulan Total 4 April 2015
![]() |
| Tahapan terjadinya gerhana bulan total 4 April 2015. Kredit: NASA. |
- 16:01 WIB / 17:01 WITA / 18:01 WIT - Awal Gerhana Bulan Penumbra
- 17:15 WIB / 18:15 WITA / 19:15 WIT - Awal Gerhana Bulan Sebagian
- 18:57 WIB / 19:57 WITA / 20:57 WIT - Awal Gerhana Bulan Total
- 19:02 WIB / 20:02 WITA / 21:02 WIT - Akhir Gerhana Bulan Total
- 20:44 WIB / 21:44 WITA / 22:44 WIT - Akhir Gerhana Bulan Sebagian
- 21:58 WIB / 22:58 WITA / 23:58 WIT - Akhir Gerhana Bulan Penumbral
Visibilitas Gerhana Bulan Total di Indonesia
![]() |
| Visibilitas gerhana bulan total 4 April 2015 di Indonesia. Kredit: BMKG. |
Indonesia akan mendapat porsi yang cukup baik dalam menyaksikan gerhana bulan total kali ini. Setidaknya, seluruh Indonesia akan bisa menyaksikan sejak gerhana bulan sebelum terjadi gerhana bulan total yang menjadi puncaknya. Di Indonesia sendiri dapat dibagi menjadi 3 zona visibilitas gerhana bulan total kali ini sebagaimana yang terlihat pada peta di atas.
Di zona timur yakni Pulau Irian Jaya bagian timur Bulan akan terbit sebelum terjadi satupun tahapan gerhana. Dengan begitu masyarakat di sini akan bisa menyaksikan seluruh tahapan gerhana yaitu sejak awal gerhana penumbral, awal gerhana sebagian, awal dan akhir gerhana total, akhir gerhana sebagian hingga akhir gerhana penumbral.
Di zona tengah yakni Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, Nusa Tenggara hingga Kalimantan Timur bagian timur Bulan akan terbit ketika awal gerhana penumbral berlangsung. Dengan begitu masyarakat di sini akan bisa menyaksikan awal gerhana penumbral, awal gerhana sebagian, awal dan akhir gerhana total, akhir gerhana sebagian hingga akhir gerhana penumbral.
Di zona barat yakni Pulau Bali, Pulau Jawa, Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan selain Kalimantan Timur bagian timur Bulan akan terbit ketika awal gerhana sebagian berlangsung. Dengan begitu masyarakat di sini akan bisa menyaksikan awal gerhana sebagian, awal dan akhir gerhana total, akhir gerhana sebagian hingga akhir gerhana penumbral.
Cara Mengamati Gerhana Bulan Total 4 April 2015
Sebenarnya tidak ada syarat khusus untuk mengamati suatu gerhana bulan total. Fenomena ini dapat di saksikan baik dengan mata telanjang, binokuler ataupun teleskop. Penggunaan kamera juga akan sangat baik untuk mengabadikan fenomena yang jarang terjadi ini. Selfie dengan latar gerhana bulan pun tidak masalah.Hal yang perlu di perhatikan sebelum pengamatan lebih pada penentuan lokasi pengamatan. Karena gerhana bulan terjadi saat Bulan terbit, maka harus di cari lokasi dengan medan pandang ke arah timur yang lapang. Ini penting karena letak Bulan masih cukup rendah di timur ketika gerhana bulan berlangsung.
Agendakan pula waktu pengamatan yang sebaiknya menjelang Bulan terbit atau sama artinya dengan menjelang matahari terbenam. Ketika Matahari terbenam di barat, maka Bulan pun akan menyambut terbit di timur. Kesempatan berada di antara indahnya senja di barat dan gerhana bulan di timur tentu akan jadi momen tak terlupakan.
Jumat, 27 Maret 2015
Matter’s Dominance over Antimatter
Diposting oleh Unknown di 23.22 Hei, I'm kikyo :'v
and this my 2nd post in here ^_^
The stars, the planets and you and I could just as easily be made of
antimatter as matter, but we are not. Something happened early in the
universe’s history to give matter the upper hand, leaving a world of
things built from atoms and little trace of the antimatter that was once
as plentiful but is rare today. A new theory published February 11 in Physical Review Letters suggests the recently discovered Higgs boson particle may be responsible—more particularly, the Higgs field that is associated with the particle.
The Higgs field is thought to pervade all of space and imbue particles
that pass through it with mass, akin to the way liquid dye gives Easter
eggs color when they are dunked in. If the Higgs field started off with a
very high value in the early universe and decreased to its current
lower value over time, it might have briefly differentiated the masses
of particles from their antiparticles
along the way—an anomaly, because antimatter today is characterized by
having the same mass but opposite charge as its matter counterpart. This
difference in mass, in turn, could have made matter particles more
likely to form than antimatter in the cosmos’ early days, producing the excess of matter we see today.
“It is a nice idea that deserves further study,” says physicist Kari
Enqvist of the University of Helsinki, who was not involved in the new
study but who has also researched the possibility that the Higgs field
lowered over time. “There is a very high probability for the Higgs field
to have a high initial value after inflation.”
The inflation of the universe
Inflation is a theorized early epoch of the universe in which spacetime
rapidly ballooned. “Inflation has a very peculiar property; it allows
fields to jump around,” says study leader Alexander Kusenko of the
University of California, Los Angeles. During inflation, which radically
altered the universe in a span much less than a second, the Higgs field
might have hopped from one value to another due to quantum fluctuations
and could have gotten stuck at a very high value when inflation ended.
From there it would have settled down into its lower “equilibrium”
value, but while it was changing its constantly varying value could have
given matter particles different masses than their antimatter
counterparts. Because lighter particles require less energy to form they
arise more often. Thus, if matter was lighter, it could have quickly
become more plentiful.
The reason the Higgs field would have had such an easy time of jumping
around during inflation is that the measured mass of the Higgs boson,
the particle associated with the field, is relatively low. The boson appeared
in 2012 inside the Large Hadron Collider (LHC) in Switzerland,
revealing its mass to be about 126 GeV (giga-electron volts), or roughly
118 times the mass of the proton.
That is somewhat lighter than it could have been, according to various
theories. Think of the Higgs field as a valley between two cliffs. The
value of the field is akin to the elevation of the valley, and the mass
of the boson determines the slope of the cliff walls. “If you have a
very curved valley then you probably have very steep sides,” Kusenko
says. “That’s what we discovered. This value tells us that the walls are
not very steep—that means the Higgs field could jump around and go very
far” to other valleys at higher elevations. Enqvist agrees that the
Higgs could very well have started off much higher than it is today.
Whether or not this caused the matter to split from antimatter is
“somewhat more speculative,” he says.
A new particle
Such splitting would depend on the presence of a theorized particle that has gone undetected so far: a so-called heavy Majorana neutrino. Neutrinos are fundamental particles that come in three flavors (electron, muon and tau). A fourth neutrino might also exist,
however, that is expected to be much heavier than the others and thus
more difficult to detect (because the heavier a particle is, the more
energy a collider must produce to create it). This particle would have
the strange virtue of being its own antimatter partner. Instead of a
matter and antimatter version of the particle, the matter and antimatter
Majorana neutrinos would be one and the same.
This two-faced quality would have made neutrinos into a bridge that
allowed matter particles to cross over into antimatter particles and
vice versa in the early universe. Quantum laws allow particles to
transform into other particles for brief moments of time. Normally they
are forbidden from converting between matter and antimatter. But if an
antimatter particle, say, an antielectron neutrino turned into a
Majorana neutrino, it would cease to know whether it was matter or
antimatter and could then just as easily convert to a regular electron
neutrino as turn back into its original antielectron neutrino self. And
if the neutrino happened to be lighter than the antineutrino back then,
because of the varying Higgs field, then the neutrino would have been a
more likely outcome potentially giving matter a leg up on antimatter.
“If true, this would solve a big mystery in particle physics,” says
physicist Don Lincoln of the Fermi National Accelerator Laboratory in
Illinois, who was not involved in the study. Yet the Majorana neutrino
“is entirely speculative and has eluded discovery, even though the LHC
experiments have a vigorous research program looking for it. Researchers
will certainly keep this idea in mind as they dig through the new data
the LHC will begin generating in the early summer this year.”
Kusenko and his colleagues also have another hope for finding additional
support for their theory. The Higgs field process they envision could
have created magnetic fields with particular properties that would still
inhabit the universe today—and if so, they might be detectable. If
found, the existence of such fields would provide evidence that the
Higgs field really did decrease in value long ago. The scientists are
trying to calculate just what the magnetic field properties would be and
whether experiments have a plausible hope of seeing them, but the
option raises the tantalizing hope that their theory could have testable
consequences—and maybe a chance to solve the antimatter mystery after
all.
Venus Express Climbs to New Orbit
Diposting oleh Unknown di 23.15Hello I'm kikyo, ^_^
And this my first post ^_^
ESA's Venus Express spacecraft has climbed to a
new orbit following its daring aerobraking experiment, and will now
resume observations of this fascinating planet for at least a few more
months.
The orbit-raising followed a month of aerobraking
that saw the spacecraft surf in and out of the atmosphere at altitudes
typically between 131 km and 135 km for a couple of minutes on each of
its closest approaches to the planet.
Before, normal operations involved an elliptical orbit every 24 hours
that took Venus Express from 66 000 km over the south pole down to
around 250 km at the north pole, just above the top of the atmosphere.
But, after eight years and with propellant running low, the Venus
Express team began a daring aerobraking campaign, dipping the craft
progressively lower into the atmosphere on its closest approaches.
The experiment directly explored previously uncharted regions of the
atmosphere, while also providing information on how a spacecraft
responds when encountering the tenuous upper reaches of an atmosphere at
high speed.
Aerobraking can be used to reduce the speed of a spacecraft
approaching a planet or moon with an atmosphere, allowing it to be
captured into orbit, and to move from an elliptical orbit to a more
circular one. Less fuel has to be carried, yielding benefits all round.
The technique will be used on future missions and the Venus Express
experiments will help guide their design.
"We have collected valuable data on the Venusian atmosphere in a
region difficult to characterise by other means," says Hakan Svedhem,
ESA's Venus Express project scientist.
"The results show that the atmosphere seems to be more variable than
previously thought for this altitude range, but further analysis will be
needed in order to explain these variations properly."
Between altitudes of 165 km and 130 km, the atmospheric density
increases by a factor of roughly a thousand, meaning that the forces and
stress encountered by Venus Express were much higher than during normal
operations.
It also experienced extreme heating cycles, with temperatures rising
by over 100oC during several 100 second-long passages through the
atmosphere.
In addition, the atmospheric drag at these lower altitudes was so
great that the spacecraft's orbital period was reduced by more than an
hour.
"The spacecraft has proven to be very robust and has apparently
experienced no substantial degradation in any area, but a detailed
evaluation is still to take place," says Joerg Fischer, Venus Express
operations engineer.
At the end of the campaign, 15 thruster burns raised the craft's
altitude, preventing it from dropping into the atmosphere. The last was
executed on Thursday evening, boosting Venus Express to a new altitude
of 460 km at its closest and 63 000 km at its furthest. This new orbit
takes 22 hours 24 minutes to complete.
"During the 15 manoeuvres, each thruster fired more than 8000 pulses
and burned a total of about 5.2 kg of propellant to raise the spacecraft
to this new altitude," adds Joerg.
This orbit will slowly decay again under gravity, but with only a few
kilograms of fuel at most now remaining further altitude-raising
manoeuvres may not be possible. If no further corrections are made,
Venus Express will probably reenter the atmosphere again in December,
but this time for good, ending the mission.
In the meantime, having survived not only the aerobraking experiment
but also the most recent orbit-raising manoeuvres, all of the science
experiments will be reactivated, continuing their detailed study of
Venus for at least a few more months.
"We are delighted with the success of the experimental aerobraking
campaign, and are looking forward to assessing the details over the
coming months," says Patrick Martin, mission manager.
"Meanwhile, we are enjoying the view from our new orbit around Venus,
and plan to continue augmenting the scientific return of this exciting
mission."
Kamis, 19 Maret 2015
Bukti Teori Big Bang Dalam Al-Qur'an
Diposting oleh Unknown di 01.39
Pada Masa I, alam semesta pertama kali terbentuk dari ledakan besar yang disebut "big bang", kira-kira 13.7 milyar tahun lalu. Bukti dari teori ini ialah gelombang mikrokosmik di angkasa dan juga dari meteorit. Awan debu (dukhan) yang terbentuk dari ledakan tersebut terdiri dari hidrogen. Hidrogen adalah unsur pertama yang terbentuk ketika dukhan berkondensasi sambil berputar dan memadat. Ketika temperatur dukhan mencapai 20 juta derajat celcius, terbentuklah helium dari reaksi inti sebagian atom hidrogen. Sebagian hidrogen yang lain berubah menjadi energi berupa pancaran sinar infra-red. Perubahan wujud hidrogen ini mengikuti persamaan E=mc2, besarnya energi yang dipancarkan sebanding dengan massa atom hidrogen yang berubah.
Masa II (ayat 2: pengembangan dan penyempurnaan)
Masa III (ayat 29): pembentukan tata surya termasuk Bumi
Masa IV (ayat 30): awal mula daratan di Bumi
Masa V (ayat 31): pengiriman air ke Bumi melalui komet
Masa VI (ayat 32-33): proses geologis serta lahirnya hewan dan manusia
Jumat, 13 Maret 2015
Planet yang Mirip Bumi
Diposting oleh Unknown di 22.19Info Astronomy - Sejak lembaga antariksa Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA) mengumumkan delapan planet kembaran Bumi yang dirangkum per Januari 2015, hal ini memicu pertanyaan lain.
Apakah semua planet tersebut layak huni sungguhan atau tidak?
Penelitian akan dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Masalahnya, untuk mengetahui lebih lanjut keadaan planet-planet itu,
wajib hukumnya mengunjungi permukaan si planet secara langsung.
Dua
planet yang baru ditemukan pada Selasa (6/1) kemarin adalah Kepler-438b
dan Kepler-442b. Masing-masing memiliki jarak 470 tahun cahaya dan
1.100 tahun cahaya dari Bumi. [1 tahun cahaya sama dengan 9,4 triliun
kilometer]
"Itu jarak yang sangat jauh," ujar salah satu peneliti
NASA, Doug Caldwell, dilansir CNN. "Kita perlu sambangi Mars terlebih
dahulu."
Selama ini, para peneliti hanya bisa meninjau
planet-planet mirip Bumi melalui instrumen teleskop Kepler milik NASA
yang diluncurkan ke orbit Bumi sejak 2009 lalu khusus untuk memburu
planet baru.
Sejauh ini, Kepler-438b dilaporkan mengandung
bebatuan sekitar 70 persen dan menerima 40 persen cahaya lebih banyak
dari Bumi. Sedangkan Kepler-442b memiliki kecenderungan permukaan
bebatuan sekitar 60 persen.
Kebanyakan di antara planet kembaran
Bumi yang telah ditemukan memang dinyatakan mengandung elemen air dan
bebatuan pada permukaan planet.
Selain kendala jarak, ketersediaan peralatan astronomis juga menjadi salah satunya.
Teleskop
luar angkasa yang bisa digunakan untuk mempelajari eksoplanet harus
memiliki diameter 10 atau 12 meter. Sementara ini, satelit Bumi paling
besar berdiameter 10 meter.
Mungkin "cuma mimpi" untuk peradaban manusia saat ini. Tapi di
peradaban manusia berikutnya, mengunjungi planet lain seperti
silaturahmi ke rumah tetangga.






